Genetika Kerapihan
insting membuang parasit dan menjaga kebersihan diri
Pernahkah kita memandangi kamar yang berantakan, merasa lelah, tapi tiba-tiba menemukan kepuasan aneh saat mulai menyapu debu di sudut ruangan? Atau, mari jujur sejenak. Pernahkah kita merasa sangat lega saat berhasil mencabut komedo atau memencet jerawat yang sudah matang? Rasanya agak jorok, memang. Tapi entah kenapa, ada sensasi lega yang sulit untuk kita tolak. Sebagian dari kita bahkan mungkin merasa bersalah karena menghabiskan waktu berjam-jam menonton video orang membersihkan karpet kotor berkerak di internet. Kita sering mengira obsesi pada kebersihan atau kerapihan ini sekadar soal kepribadian. Atau mungkin hasil didikan orang tua di masa kecil. Tapi, bagaimana jika saya beri tahu bahwa dorongan aneh ini sebenarnya punya akar yang jauh lebih tua dari peradaban manusia? Mari kita tarik napas sebentar dan berpikir bersama. Karena jawabannya ternyata tersembunyi sangat dalam, di dalam untaian DNA kita sendiri.
Coba kita mundur sejenak ke masa lalu. Jauh sebelum ada sabun antiseptik, skincare, atau penyedot debu otomatis. Ratusan ribu tahun lalu, nenek moyang kita hidup di alam liar yang keras. Di sana, ancaman terbesar bukanlah tagihan bulanan atau deadline pekerjaan, melainkan hal-hal kecil yang tak kasat mata: bakteri, virus, dan tentu saja, parasit. Kutu, lintah, dan tungau adalah musuh bebuyutan purba. Untuk bertahan hidup, kelompok primata mengembangkan sebuah ritual sosial yang sangat penting bernama social grooming atau saling menyelisik. Kalau teman-teman pernah ke kebun binatang dan melihat monyet saling mencari kutu di bulu temannya, nah, itulah versi aslinya. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas salon ala primata. Ini adalah urusan hidup dan mati. Menyingkirkan parasit berarti mencegah infeksi mematikan. Tapi alam punya cara yang pintar untuk memastikan kita terus melakukan hal yang melelahkan ini. Bagaimana caranya alam memaksa leluhur kita agar rajin bersih-bersih?
Rahasianya ada pada sistem imbalan di dalam otak. Setiap kali leluhur kita berhasil mencabut parasit dari kulit temannya, otak mereka langsung melepaskan hormon bahagia. Tapi tunggu dulu, ini memunculkan sebuah pertanyaan psikologis yang menarik. Kalau memang bersih-bersih itu membuat bahagia dan menjauhkan kita dari penyakit mematikan, kenapa ada orang yang betah hidup berantakan? Kenapa ada teman kita yang kamarnya mirip kapal pecah, sementara yang lain tidak bisa tidur kalau sudut selimutnya tidak simetris? Apakah ini murni soal kemalasan, atau ada cetak biru genetik yang mengaturnya? Para ilmuwan mulai meneliti apa yang disebut sebagai behavioral immune system atau sistem imun perilaku. Ini adalah alarm bawah sadar kita terhadap hal-hal yang berpotensi membawa kuman. Masalahnya, alarm ini ternyata tidak berbunyi dengan volume yang sama pada setiap orang. Ada yang sangat sensitif, ada yang biasa saja. Lalu, di mana tepatnya letak tombol penyetel insting kebersihan ini?
Di sinilah sains memberikan jawaban yang menakjubkan. Sensitivitas kita terhadap kuman, parasit, dan ketidakrapian ternyata sangat dipengaruhi oleh genetika. Studi terhadap saudara kembar identik menunjukkan bahwa respons rasa jijik sebagian besar diturunkan melalui DNA. Gen kita merancang seberapa kuat otak memproduksi dopamin (hormon kepuasan) dan oksitosin (hormon ikatan cinta) saat kita melakukan aktivitas pembersihan. Bagi leluhur kita, membuang parasit dari tubuh kawan bukan hanya mencegah penyakit, tapi juga memperkuat persahabatan berkat siraman oksitosin. Di era modern, ancaman kutu purba itu mungkin sudah jarang. Tapi sirkuit otak kita belum banyak berubah. Insting berburu parasit ini mengalami semacam mutasi perilaku. Otak kita menggeser targetnya. Kutu dan tungau purba kini tergantikan oleh komedo, debu di atas meja, atau kumpulan email yang berantakan. Saat kita merapikan meja kerja, otak purba kita berteriak kegirangan, mengira kita baru saja menyelamatkan suku dari wabah mematikan. Kita merasa sangat puas karena DNA kita memberikan "hadiah" dopamin atas keberhasilan kita menciptakan lingkungan yang aman.
Jadi, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan melintasi waktu evolusi ini? Pertama, kita bisa mulai berdamai dengan diri sendiri. Kalau teman-teman termasuk orang yang hobi beres-beres saat sedang stres, ketahuilah bahwa itu adalah insting purba yang sedang melindungi kesehatan mental kita. Itu adalah cara DNA kita memeluk kita dari dalam. Di sisi lain, mari kita sedikit berempati pada mereka yang kamarnya agak berantakan. Mereka bukan sekadar pemalas yang tidak tahu aturan. Sangat mungkin, warisan genetik behavioral immune system mereka memang disetel pada mode yang lebih santai dan tidak mudah merasa jijik. Pada akhirnya, kita semua hanyalah makhluk purba yang kebetulan hidup di era modern. Obsesi kita pada kerapihan dan kebersihan diri adalah pengingat bahwa sejauh apa pun teknologi melangkah, kita tetaplah makhluk alam biologis. Sebuah keluarga besar yang diam-diam masih mencari ketenangan dengan cara menyingkirkan "parasit" kehidupan, satu debu, dan satu jerawat demi satu jerawat.